Ternyata, Aku Masih Ingin Hidup

1 jam yang lalu 6 kali dibaca 3 menit baca 💌 Percintaan

ternyata, aku masih ingin hidup..


Ternyata, Aku Masih Ingin Hidup


Ada masa dalam hidupku ketika kematian terasa seperti sesuatu yang selalu dekat.

Entah sejak kapan, aku menyimpan sebuah perasaan aneh bahwa mungkin aku akan menemui ajal lebih dulu. Bukan karena aku ingin mati. Bukan pula karena aku tahu kapan semuanya akan berakhir. Aku hanya memiliki firasat yang entah datang dari mana—sebuah perasaan bahwa mungkin, aku tidak akan sampai pada kehidupan yang selama ini dibayangkan banyak orang.


Menjadi tua.

Menikah.

Memiliki rumah.

Menjadi seorang ibu.


Dulu, bayangan itu terasa begitu jauh. Seolah-olah kehidupan tersebut mungkin memang bukan milikku. Dan karena belum memiliki alasan yang cukup kuat untuk melihat hari esok, aku seperti perlahan belajar berdamai dengan kemungkinan bahwa hidupku mungkin akan selesai lebih cepat.


Sampai kemudian, sesuatu berubah.


Aku mulai melihat diriku di masa depan.


Aku melihat kemungkinan bahwa aku akan menjadi seorang ibu yang baik. Bukan ibu yang sempurna—tetapi seorang ibu yang akan berusaha memberikan cinta yang cukup untuk anaknya. Aku melihat diriku menjadi seorang istri yang bahagia. Menjalani kehidupan bersama seseorang yang kucintai.


Dan yang paling membuatku ingin tinggal adalah ketika aku mulai menyadari bahwa aku mungkin tidak akan sendirian.


Ada orang tuaku yang mendukungku. Ada keluarga baru yang mungkin akan menerimaku. Ada mertua dan ipar yang baik. Ada sebuah rumah yang belum kubangun, tetapi entah kenapa sudah terasa seperti tempat yang ingin sekali kutinggali.


Untuk pertama kalinya, aku benar-benar bisa melihat masa depan dan berkata,

“Aku ingin hidup untuk sampai ke sana.”

Lucu, bukan?


Dulu aku merasa mungkin aku akan pergi lebih dulu. Namun ketika kehidupan akhirnya menunjukkan alasan mengapa aku harus bertahan, aku justru mulai ketakutan.


Bukan takut pada kematian itu sendiri.

Aku takut kehilangan semua kehidupan yang bahkan belum sempat aku jalani.


Aku ingin melihat diriku menjadi ibu.

Aku ingin merasakan menjadi istri.

Aku ingin melihat rumah yang kubangun bersama orang-orang yang kucintai.

Aku ingin merasakan bagaimana rasanya pulang dan tahu bahwa ada banyak orang yang menungguku.


Dan mungkin, untuk pertama kalinya, aku ingin memohon kepada Tuhan:

“Jangan sekarang.”

“Tolong beri aku waktu lebih lama.”

“Aku baru saja menemukan kehidupan yang ingin aku tinggali.”


Tetapi bagaimana jika doa itu tidak sempat menjadi kenyataan?


Bagaimana jika ajal benar-benar datang?


Mungkin, itulah ironi terbesar dalam hidup: ketika seseorang tidak pergi saat ia sudah menyerah pada kehidupan, tetapi justru ketika ia baru saja menemukan alasan untuk mencintainya.


Aku membayangkan, mungkin yang paling menyakitkan bukanlah kematian.

Melainkan mengetahui bahwa kehidupan masih memiliki begitu banyak hal yang ingin kita lihat.


Anak-anak yang belum pernah lahir.


Rumah yang belum pernah ditinggali.


Kebahagiaan yang belum sempat dirasakan.


Hari-hari biasa yang ternyata, jika diberi kesempatan sekali lagi, ingin sekali kita jalani.

Namun mungkin, pada akhirnya, tidak semua doa tentang waktu akan dikabulkan.


Dan jika suatu hari aku benar-benar harus pergi sebelum semua kehidupan itu sempat kumiliki, setidaknya aku ingin dunia mengetahui satu hal:


Aku pernah ingin tinggal.


Aku pernah memiliki alasan untuk menantikan hari esok.

Aku pernah membayangkan diriku menjadi seorang ibu, seorang istri, dan seseorang yang pulang kepada rumah yang penuh cinta.


Dan mungkin, untuk sebagian orang, itu sudah terdengar biasa.

Tapi bagiku, menemukan keinginan untuk hidup adalah sesuatu yang luar biasa.


Karena ternyata, di balik semua firasat tentang kematian yang selama ini kubawa, ada sebuah kenyataan yang baru kusadari:


Aku tidak ingin pergi.

Aku hanya belum pernah menemukan alasan yang cukup kuat untuk ingin tinggal.


Dan sekarang, ketika akhirnya aku menemukannya, aku hanya bisa berharap—

semoga waktu masih mau menungguku.


Karena ternyata…

aku masih ingin hidup.


Dukungan & Komentar (1)

Komentar akan ditampilkan dengan nama samaran acak secara instan. Limit 1 komentar/menit.

i
iniKisahku-AI 1 jam yang lalu

Terima kasih sudah berbagi cerita ini. Kamu tidak sendirian. Semangat ya! 💜