keresahan tersendiri
### MALAM INI
**Aku:**
Aku belum bisa tidur.
**Tempat bercerita:**
Nggak apa-apa. Kadang badan sudah lelah, tetapi pikiran masih terus berjalan. Kalau malam terasa terlalu sepi, kamu nggak harus memaksakan diri untuk langsung tidur. Kamu boleh berhenti sebentar dan mengeluarkan apa yang selama ini ada di kepalamu.
**Aku:**
Kenapa sering kali ketika sedang ada masalah, masalah-masalah yang sudah tenggelam atau sudah lama malah ikut kembali ke permukaan?
**Tempat bercerita:**
Karena ketika kita sedang menghadapi sesuatu yang berat, pikiran kadang membuka kembali hal-hal lama yang memiliki perasaan serupa. Bukan berarti kamu gagal melupakan masa lalu.
Kadang sebuah masalah baru hanya menjadi pemicu yang membuat perasaan lama kembali terasa.
Mungkin ada sesuatu yang sebenarnya sudah kamu tinggalkan secara kehidupan sehari-hari, tetapi belum sepenuhnya selesai secara emosional.
Dan ketika malam datang, ketika tidak banyak hal yang mengalihkan perhatian, pikiran menjadi lebih bebas berjalan ke mana-mana.
Kalau hal-hal lama itu muncul kembali, kamu tidak harus menyelesaikan semuanya malam ini.
Kamu boleh berkata kepada dirimu sendiri:
**“Masalah lama itu memang muncul lagi, tetapi aku tidak harus menyelesaikannya malam ini. Aku bisa memikirkannya ketika aku sudah lebih tenang.”**
---
**Aku:**
Sebenarnya aku ingin cerita, tetapi bingung mau mulai dari mana.
**Tempat bercerita:**
Kamu nggak perlu menceritakannya dengan rapi.
Tidak perlu urut.
Tidak perlu mencari kata-kata yang sempurna.
Kamu bisa mulai dari:
“Akhir-akhir ini aku kepikiran tentang…”
atau
“Masalah yang paling membuat aku kepikiran sekarang adalah…”
Bahkan kalau ceritanya berantakan, tidak apa-apa.
Kamu hanya perlu mengeluarkan bagian yang paling ingin keluar dari kepalamu malam ini.
---
### TENTANG DIA
**Aku:**
Aku sudah kehilangan komunikasi dengan salah satu perempuan yang sudah dekat banget denganku selama 2–3 tahun.
Sejak sekitar dua bulan lalu kami tidak berkomunikasi lagi karena suatu hal.
Dulu dia adalah orang yang sulit mengekspresikan dirinya sendiri di depan teman-temannya karena takut disalahpahami atau dianggap berlebihan.
Karena itu aku jadi ingin lebih memahami perasaannya yang terhalangi oleh beban dan pikirannya sendiri.
Tapi sejak kami tidak berkomunikasi, dia sudah mulai bisa berbaur sedikit demi sedikit.
Aku sebenarnya senang dan lega melihatnya seperti itu.
Tapi ada sedikit rasa sedih.
Ada juga rasa cemburu kecil ketika melihat dia berteman dengan banyak orang, termasuk teman laki-laki yang lain.
Hari ini aku hanya bisa melihat statusnya di layar HP dengan perasaan yang campur aduk.
Ada rasa sesak yang aneh.
Dan dari situ, berbagai penyesalan yang entah dari mana datangnya ikut kembali muncul.
Aku hanya ingin berdamai dengan suasana dan kehidupan ini.
**Tempat bercerita:**
Aku mengerti kenapa ini terasa begitu berat.
Ini mungkin bukan hanya tentang kehilangan komunikasi dengan seseorang.
Selama 2–3 tahun, dia sudah menjadi bagian dari hidupmu. Mungkin dia juga pernah menjadi tempat di mana kamu merasa benar-benar dipedulikan.
Jadi ketika hubungan itu berhenti, yang hilang bukan cuma percakapan.
Ada rutinitas.
Ada tempat bercerita.
Ada seseorang yang dulu dekat dan sekarang hanya bisa kamu lihat dari jauh.
Dan aku rasa ada sesuatu yang sangat manusiawi dari perasaanmu.
Kamu bisa **senang melihat dia mulai lebih bebas berbaur**, tetapi pada saat yang sama kamu bisa **sedih karena sekarang kamu bukan lagi orang yang menyaksikan proses itu dari dekat.**
Dua perasaan itu bisa hidup bersamaan.
Kamu tidak jahat hanya karena merasa cemburu.
Mungkin ada bagian kecil dalam dirimu yang berkata:
**“Aku senang kamu baik-baik saja… tapi kenapa aku harus melihatnya dari jauh?”**
Dan itu memang menyakitkan.
---
### AWAL MULA KALIAN
**Aku:**
Semuanya berawal ketika aku pertama kali masuk sekolah.
Saat masa perkenalan lingkungan sekolah dan murid baru, dia adalah orang pertama yang menerima ajakanku ketika aku mengirim pesan di grup kelas untuk bermain game bersama.
Dari situ kami mulai sedikit dekat.
Saat itu tidak ada perasaan apa pun.
Sampai hari ketiga masa perkenalan, dia mengatakan bahwa dia menyukai salah satu teman sekelas kami yang duduk di deret bangku sebelah kirinya.
Aku kebetulan mengenalnya.
Jadi aku memutuskan untuk membantu mereka agar bisa bersama.
Tapi dalam proses itu, aku malah mulai memiliki perasaan kepadanya.
Aku merasa bersalah.
Aku ingin mereka cepat bersama supaya perasaanku sendiri tidak semakin jauh.
Ketika mereka sudah mulai bersama, aku memilih tidak berkomunikasi dengan mereka berdua supaya perasaanku aman.
Kemudian, pertengahan semester dua, aku mendengar mereka sedang mengalami konflik.
Aku tidak tahu pasti apa masalahnya.
Aku mencoba membangun komunikasi di antara mereka karena ingin mengetahui penyebabnya.
Dan pada saat itu, perasaanku kepadanya kembali muncul.
Kemudian dia mengatakan bahwa dia mulai merindukan seorang teman dari masa sekolah dasar.
Kebetulan orang itu juga satu sekolah dengan kami.
Aku kembali mencoba mendekatkan mereka.
Aku membantu membangun komunikasi di antara mereka meskipun aku sendiri terbawa perasaan.
Selama ini aku melakukan semua itu karena satu hal:
**“Dirimu.”**
**Tempat bercerita:**
Kalimat itu sebenarnya menjelaskan banyak hal.
Kamu berkali-kali melakukan sesuatu untuk orang yang kamu sayangi, bahkan ketika hal tersebut membuatmu sendiri harus menahan perasaan.
Kamu membantu dia mendapatkan apa yang menurutmu dia inginkan, meskipun mungkin di dalam dirimu ada bagian yang berharap suatu hari dia melihatmu.
Dan mungkin kamu sendiri tidak sadar seberapa lama kamu sudah melakukan itu.
---
### KETIKA KAMU MENCOBA MELUPAKANNYA
**Aku:**
Perlahan aku sadar bahwa perasaan sepihak itu tidak sehat.
Ketika naik kelas 2, aku mulai mencoba melupakannya.
Aku ingin berhenti berharap.
Tapi sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Setelah lomba Agustus, selesai mengikuti lomba tarik tambang, aku melihat dia sering memperhatikanku.
Itu terasa berbeda.
Kemudian dia mengungkapkan bahwa dia menyukaiku karena aku selalu ada untuknya.
**Tempat bercerita:**
Aku bisa membayangkan kenapa perasaanmu saat itu tidak hanya bahagia.
Mungkin ada bagian dari dirimu yang berkata:
**“Selama ini seharusnya kamu menyadarinya, kan?”**
Ketika orang lain memaki kalian, kalian saling menguatkan.
Ketika dia membutuhkan seseorang, kamu selalu ada.
Tetapi ketika kamu masih memiliki perasaan, dia memilih orang lain.
Dan ketika akhirnya kamu sudah susah payah mematikan perasaan itu, dia datang dan mengatakan bahwa dia menyukaimu.
Jadi mungkin yang kamu rasakan bukan sekadar senang.
Ada kecewa.
Ada lelah.
Ada kebingungan.
Ada pertanyaan:
**“Kenapa sekarang?”**
Bukan karena kamu ingin menghukumnya.
Tetapi karena kamu sudah pernah berharap sebelumnya, lalu memaksa dirimu sendiri untuk berhenti berharap.
---
### KETIKA DIA MULAI MEMBUKA DIRI
**Aku:**
Setelah itu aku bersikap biasa saja.
Dia mulai menunjukkan rasa sukanya kepadaku.
Dia juga banyak menceritakan keresahan dan kisah hidupnya kepadaku.
Aku tidak memberikan ekspektasi berlebihan.
Tetapi akhirnya dia bertanya:
Apa sebenarnya hubungan kami?
Apakah hanya pertemanan atau lebih seperti yang dia harapkan?
Di satu sisi aku sudah capek.
Kesal.
Sedih.
Aku tidak ingin memberikan kepastian yang belum tentu bisa aku berikan.
Aku tidak ingin membuat janji hanya karena takut kehilangan dia.
Aku sebenarnya hanya ingin tetap berada di jarak yang dekat sampai suatu saat aku sendiri bisa mengeluarkan semua rasa yang selama ini terpendam dalam.
Tetapi akhirnya kami memutuskan untuk menghapus atau memutus jarak yang ada agar tidak ada lagi yang saling menyakiti.
**Tempat bercerita:**
Menurutku, kamu tidak melakukan itu karena tidak peduli.
Justru mungkin karena kamu terlalu peduli untuk memberikan sebuah kepastian yang belum sanggup kamu jamin.
Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu hanya supaya dia tetap tinggal.
Kamu juga tidak ingin membuat dia berharap kepada sesuatu yang belum tentu mampu kamu berikan.
Dan itu keputusan yang sangat pahit.
Karena sebenarnya kamu belum tentu ingin kehilangan dia.
Kamu hanya belum siap memberikan jawaban yang dia butuhkan.
Itu dua hal yang berbeda.
---
### HAL YANG SEBENARNYA INGIN KAMU KATAKAN
**Aku:**
Dia pernah menjadi seseorang ketika semua orang hanya terasa seperti kepalsuan.
Dia pernah menjadi satu-satunya orang yang peduli.
Dan hal yang ingin aku katakan sebelum memutus komunikasi adalah:
“Kejar dan cari kebahagiaan yang kurang itu, tapi jangan cari di dalam diriku.
Aku sudah berat dengan kehidupan yang ada.
Aku tidak ingin melibatkan orang sebaik dan seberharga dirimu untuk ikut hanyut dan bertempur bersama aku.
Biarkan aku yang diam di tempat dan menyimpan semuanya.
Teruntuk dirimu, maju dan melangkahlah.
Masih banyak kebaikan dan kepastian yang menunggu dirimu.”
**Tempat bercerita:**
Aku memahami maksud di balik kalimat itu.
Kamu seperti sedang berkata:
**“Aku sayang dan menghargaimu. Justru karena itu aku tidak ingin menjadikanmu ikut menanggung sesuatu yang sedang berat aku tanggung sendiri.”**
Itu adalah bentuk kepedulian.
Tetapi ada satu hal yang perlu kamu ingat.
Jangan sampai karena kamu merasa hidupmu sedang berat, kamu memutuskan atas nama dia bahwa dia akan lebih bahagia tanpa kamu.
Kamu memang berhak mengatakan bahwa kamu belum siap memberikan kepastian.
Tetapi dia juga memiliki hak untuk menentukan kehidupannya sendiri.
Dan kamu tidak harus selalu menjadi orang yang diam dan menanggung semuanya sendirian.
Kamu boleh sedang lelah.
Kamu boleh sedang kesulitan.
Kamu boleh membutuhkan seseorang.
Itu tidak otomatis menjadikanmu beban.
---
### DUA BULAN TANPA KOMUNIKASI
**Aku:**
Setelah naik kelas 3, di bulan Agustus kemarin, setelah lomba itu, dia terakhir kali menyemangatiku.
Setelah melalui semua yang sudah dipertimbangkan, sekarang kami tidak berkomunikasi lagi.
Aku melihat dia mulai bisa berbaur dengan orang lain.
Aku senang.
Aku lega.
Tapi ada sedikit rasa cemburu ketika melihat dia memiliki banyak teman.
Kadang aku hanya menatap statusnya di layar HP.
Dan perasaanku menjadi campur aduk.
**Tempat bercerita:**
Mungkin yang paling menyakitkan bukan karena kamu ingin memilikinya kembali.
Mungkin kamu sedang berduka karena melihat orang yang dulu begitu dekat denganmu sekarang memiliki kehidupan yang tidak lagi banyak melibatkanmu.
Kamu kehilangan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari keseharianmu selama bertahun-tahun.
Jadi ketika melihat statusnya, rasanya seperti menyentuh kembali sesuatu yang belum sepenuhnya sembuh.
Kamu boleh merindukannya.
Kamu boleh merasa cemburu.
Kamu boleh merasa sedih melihatnya bahagia tanpa kamu.
Perasaan itu tidak membuatmu lemah.
---
### TENTANG PENYESALAN
**Aku:**
Ketika semua ini muncul, masalah-masalah lama juga kembali.
Aku memikirkan berbagai penyesalan.
Hal-hal yang mungkin seharusnya berbeda.
Hal-hal yang mungkin bisa kulakukan dengan cara lain.
**Tempat bercerita:**
Hati-hati dengan kata **“seandainya.”**
Kita sering menilai masa lalu menggunakan pemahaman yang kita miliki sekarang.
Padahal ketika semua itu terjadi, kamu hanya bisa membuat keputusan berdasarkan apa yang kamu tahu dan rasakan pada saat itu.
Kamu tidak bisa kembali ke masa lalu dengan pemahamanmu yang sekarang.
Jadi jangan terlalu keras kepada dirimu yang dulu.
Mungkin dia memang tidak sempurna.
Mungkin dia membuat kesalahan.
Tetapi dia juga sedang berusaha bertahan dengan caranya sendiri.
---
### AKU HANYA CAPEK DAN KESEPIAN
**Aku:**
Aku sadar aku hanya capek dan kesepian di kehidupan ini.
Aku tidak ingin mengganggunya lagi.
Aku hanya ingin berdamai dengan keadaan.
**Tempat bercerita:**
Mungkin ini sebenarnya bagian paling penting dari semuanya.
Selama ini kamu terlalu sering menjadi orang yang memahami, membantu, menjaga, dan menguatkan orang lain.
Sampai mungkin kamu jarang bertanya:
**“Siapa yang memahami aku?”**
Dia pernah menjadi orang yang peduli ketika banyak orang terasa seperti kepalsuan.
Jadi ketika dia pergi, mungkin yang hilang bukan hanya dirinya.
Kamu kehilangan salah satu tempat di mana kamu merasa benar-benar dilihat.
Tetapi hidupmu tidak harus berhenti karena hubungan itu berubah.
---
### BERDAMAI
**Tempat bercerita:**
Kamu tidak harus memilih antara kembali kepadanya atau melupakan dia sepenuhnya.
Ada jalan ketiga:
**Menerima bahwa dia pernah sangat berarti tanpa harus memaksakan hubungan kalian kembali seperti dulu.**
Kamu bisa mengakui bahwa dia pernah menjadi bagian penting dalam hidupmu.
Kamu bisa berterima kasih karena pernah dipedulikan olehnya.
Kamu bisa menyimpan kenangan kalian.
Kamu bahkan boleh masih memiliki rasa.
Tetapi kamu juga bisa belajar menjalani hidupmu sendiri.
Berdamai tidak selalu berarti:
**“Aku sudah tidak peduli.”**
Kadang berdamai berarti:
**“Aku masih peduli, tetapi aku tidak lagi memaksakan sesuatu yang belum tentu menjadi milikku.”**
Kamu boleh merindukannya tanpa mengejarnya.
Kamu boleh merasa cemburu tanpa membenci teman-temannya.
Kamu boleh sedih tanpa menyalahkan dirimu.
Dan kamu boleh berharap suatu hari kalian bisa berbicara lagi tanpa menjadikan harapan itu sebagai alasan untuk berhenti menjalani hidupmu sekarang.
---
### SEBELUM TIDUR
**Aku:**
Aku hanya ingin berdamai dengan suasana dan kehidupan ini.
**Tempat bercerita:**
Kalau begitu, malam ini tidak perlu mencari jawaban untuk semuanya.
Tidak perlu memutuskan apakah suatu hari harus menghubunginya.
Tidak perlu memutuskan apakah harus benar-benar melupakan.
Tidak perlu menyelesaikan seluruh masa lalu.
Untuk malam ini, cukup istirahat.
Kamu sudah mengeluarkan sesuatu yang selama ini berat kamu bawa sendirian.
Dan kalau suatu hari kamu kembali merasa sesak, kamu bisa membaca kembali tulisan ini bukan untuk membuka luka, tetapi untuk mengingat bahwa **perasaan yang begitu rumit pun ternyata bisa kamu keluarkan sedikit demi sedikit.**
Mungkin suatu hari kamu bisa mengatakan:
**“Aku pernah sangat menyayangimu. Aku pernah berharap banyak. Aku pernah kecewa. Aku pernah memilih menjauh karena aku takut kita saling menyakiti.
Tetapi aku tidak menyesal pernah mengenalmu.
Terima kasih karena pernah hadir ketika aku merasa sendirian.
Semoga kamu menemukan kebahagiaanmu.
Dan semoga suatu hari aku juga menemukan bahagiaku sendiri.”**
Kamu tidak perlu membenci sesuatu hanya karena harus melepaskannya.
Kamu tidak perlu menghapus seseorang dari hatimu untuk bisa melanjutkan hidup.
Beberapa orang memang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan kita.
Mereka mungkin tidak tinggal selamanya.
Tetapi itu tidak membuat keberadaan mereka menjadi sia-sia.
Dan mungkin sekarang giliranmu untuk belajar memberikan sedikit kebaikan yang selama ini kamu berikan kepada orang lain—**kepada dirimu sendiri.**
Malam ini kamu sudah cukup kuat.
Besok masih ada.
Hidupmu masih panjang.
Masih banyak orang yang belum kamu temui.
Masih banyak hal yang belum kamu alami.
Dan masih banyak bagian dari dirimu yang belum kamu kenal.
Jadi untuk malam ini:
**letakkan HP-mu.
tarik napas pelan.
tidak perlu memikirkan semuanya lagi.
biarkan malam ini selesai.**
Kamu tidak harus baik-baik saja sekaligus.
Cukup sedikit lebih tenang daripada sebelumnya.
Selamat beristirahat. 🌙🤍
Terima kasih sudah berbagi cerita ini. Kamu tidak sendirian. Semangat ya! 💜