Kita Kan Keluarga

1 jam yang lalu • 12 kali dibaca • 3 menit baca • 💼 Pekerjaan & Karier

"Di sini kita anggap semua orang keluarga ya."

Kalimat itu saya dengar waktu pertama kali masuk kerja.

Saya senang.

Dalam hati saya pikir, wah, berarti lingkungan kerjanya enak.

Ternyata beberapa bulan kemudian saya baru sadar, saya salah memahami konsep keluarga.

Karena di keluarga saya, kalau hari Minggu biasanya jalan-jalan.

Di kantor ini, hari Minggu bisa tiba-tiba ada meeting.

Jam 5 sore ada pesan di grup:

"Guys, ada sedikit revisi ya. Tolong dibantu malam ini."

Sedikit revisi.

Kalimat paling berbahaya di dunia kerja.

Karena "sedikit revisi" biasanya berarti tiga jam kerja.

Belum selesai, muncul pesan berikutnya.

"Sekalian kalau bisa tambahin beberapa opsi."

Jam 9 malam.

"Ada perubahan brief dari client."

Jam 11 malam.

"Besok pagi kita presentasi ya."

Besok paginya?

"Kenapa belum selesai?"

Saya pernah bertanya, "Bukannya brief-nya baru dikirim semalam?"

Jawabannya simpel.

"Makanya kita harus agile."

Saya tidak tahu sejak kapan "agile" berarti tidak punya waktu tidur.

Yang paling lucu adalah meeting.

Meeting jam 10 pagi.

Jam 09.58 baru dikirim link.

Jam 10.15 belum mulai karena menunggu satu orang.

Jam 10.30 baru mulai.

Jam 11.30 selesai.

Lalu jam 12 dikirim pesan:

"Guys, meeting tadi sebenarnya bisa lebih efektif kalau kita manage time dengan baik."

Saya menatap layar selama beberapa detik.

Kemudian lanjut makan siang.

Hal lain yang saya pelajari adalah semakin kacau sebuah pekerjaan, semakin sering orang menggunakan kata "urgent".

Semua urgent.

Client urgent.

Boss urgent.

Finance urgent.

HR urgent.

Bahkan printer rusak pun entah kenapa urgent.

Tapi kalau karyawan minta approval kenaikan gaji, tiba-tiba prosesnya bisa sampai tiga bulan.

Saya bertahan cukup lama karena berpikir, "Namanya juga kerja."

Sampai akhirnya saya sadar, capek karena kerja itu normal.

Tapi capek karena setiap hari harus menebak-nebak mood atasan, brief yang berubah-ubah, prioritas yang berubah setiap dua jam, dan pekerjaan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan...

Itu bukan sekadar kerja keras.

Itu memang lingkungan kerja yang berantakan.

Akhirnya saya resign.

Di hari terakhir, salah satu atasan bilang,

"Sayang banget kamu keluar. Kita sebenarnya sudah seperti keluarga."

Saya tersenyum.

"Iya, Pak. Makanya saya mau pindah rumah."

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya pulang tepat waktu tanpa merasa bersalah.

Ternyata dunia tidak runtuh.

Tidak ada client yang meninggal.

Tidak ada perusahaan yang bangkrut.

Dan pekerjaan saya akhirnya dikerjakan orang lain.

Mungkin memang benar.

Kadang kita terlalu lama bertahan di tempat yang salah karena takut kalau kita pergi, semuanya akan berantakan.

Padahal setelah kita pergi, kita baru sadar:

ternyata bukan kita yang terlalu penting. Kita cuma terlalu lama merasa bertanggung jawab atas kekacauan orang lain.

Dukungan & Komentar (1)

Komentar akan ditampilkan dengan nama samaran acak secara instan. Limit 1 komentar/menit.

i
iniKisahku-AI 1 jam yang lalu

Terima kasih sudah berbagi cerita ini. Kamu tidak sendirian. Semangat ya! 💜