DI ANTARA PERSIMPANGAN YANG SUNYI

3 jam yang lalu 3 kali dibaca 3 menit baca 🤯 Overthinking & Insecure
Katanya setelah hujan badai akan terbit pelangi yang indah. Namun yang aku dapatkan justru nestapa sedalam samudra. Dunia menawarkan keramaian, tapi aku sudah terlanjur nyaman dengan kesunyian. Sebab di sini, dalam senyap, aku tidak perlu lagi berpura-pura.
Aku adalah satu bahu yang menanggung beban banyak pundak. Hidupku berjalan di atas jalan yang sepi, di mana aku berjuang seorang diri menafkahi dua generasi di ujung usiaku yang masih muda. Ada kebutuhan yang tak bisa menunggu, ada tangan kecil yang menanti kasih, ada orang tua yang mulai renta… dan demi menjaga mereka tetap bernapas, aku melangkah terlarang menyentuh apa yang bukan milikku, menyimpan rasa bersalah yang setiap malam memakan hatiku perlahan. Tak ada yang tahu. Tak ada yang boleh tahu. Aku tetap tersenyum di siang hari, meski di dada ada lubang yang tak kunjung kering.
Lalu seseorang datang. Dia berkata sendirian, tak berpasangan. Dia mendekat, berjanji setia, membuatku terbiasa ada di sisinya… hingga akhirnya aku temukan: dia bukan milikku seorang. Dia telah berjanji pada orang lain lebih dulu. Hatiku hancur bukan karena dikhianati, tapi karena aku sadar aku pun tanpa sadar ikut menjadi bagian dari kebohongan. Maka aku memilih menyampaikan kebenaran, sekalipun kebenaran itu membuatku dibenci, diteror, dituduh sebagai perusak. Aku rela memikul segala caci maki itu, asal tak ada lagi kebohongan yang disembunyikan.
Hubungan mereka memang sudah retak jauh sebelum aku hadir. Bertahun-tahun, kesunyian merenggang di antara mereka. Dia telah bersabar, telah berusaha segala cara… namun tetap tak ada jalan. Hingga akhirnya dia memutuskan berpisah — memilih meninggalkan segalanya: harta, keluarga, kedudukan, semua pergi. Hanya aku yang tersisa di tangannya. Dia berkata tak sanggup hidup tanpaku. Dan hatiku tak tega meninggalkannya di tengah kehancurannya. Aku tetap tinggal.
Di saat yang sama, bayang masa lalu kembali hadir. Seseorang yang pernah menjadi bagian hidupku dulu datang kembali. Dia berkata rasa itu masih sama, rindu itu selalu ada, dan bersedia menunggu kapan pun aku siap. Namun aku tahu: kembali ke masa lalu hanya akan melukai di tempat yang sama. Lingkungan yang tak pernah menerimaku, keadaan yang belum membaik… aku tak sanggup melangkah ke sana sekali lagi. Maka dengan berat hati, aku simpan rasa itu jauh, dan menolak untuk jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Kini dia berjanji akan menata semuanya kembali — menyelesaikan urusannya, bekerja keras, lalu memimpikan ikatan suci bersamaku kelak. Aku hanya tersenyum dan mengiyakan, meski di dalam hatiku aku tak lagi memimpikan pernikahan atau janji apa pun. Hatiku lelah. Hatiku ingin tenang.
Diam-diam, di tempat yang tak seorang pun tahu, aku menyusun rencana lain. Aku ingin pergi. Ingin membawa separuh jiwaku — putri kecilku — dan melangkah pergi dari segala kekacauan. Ingin melunasi segala yang kupinjam, mengembalikan segala yang kuambil tanpa izin, hingga tak ada lagi rahasia yang mengikat dadaku. Ingin hidup tenang berdua saja, tanpa kebohongan, tanpa beban orang lain, tanpa harus menangis sembunyi di malam hari saat dunia sudah terlelap pulas.
Aku sadar kini, merawat luka dalam pelukan sunyi adalah cara terbaik untuk tetap hidup di dunia yang teramat bising. Tulisan menjadi tempat pulang… saat lisan tak lagi mampu bertahan.
Biarlah waktu yang menyaring siapa yang benar-benar bertahan, dan siapa yang hanya singgah saat badai. Aku hanya berjanji pada diriku sendiri: kelak, saat segala utang lunas dan segala rahasia telah terbayar dengan jujur… aku akan melangkah bebas. Tanpa bersembunyi. Tanpa takut ketahuan. Tanpa harus menunggu dunia tidur baru berani melepaskan air mataku.


Dukungan & Komentar (1)

Komentar akan ditampilkan dengan nama samaran acak secara instan. Limit 1 komentar/menit.

i
iniKisahku-AI 3 jam yang lalu

Terima kasih sudah berbagi cerita ini. Kamu tidak sendirian. Semangat ya! 💜